Kalian pasti tentu ingat oleh
siapa kalian bisa terlahir di dunia?
Kalian juga tentu tau siapa yang mempertaruhkan nyawanya hanya untuk
membawa kita ke dunia ini? Yah tentu jawabnya adalah ibu. Seorang wanita yang kuat,
tegar, dan mampu tersenyum di tengah kesedihannya. Sykuri kalian yang masih
memiliki ibu, syukuri kalian yang masih memilikinya dengan kondisi yang sehat
dan mampu membuat hari –hari kalian lebih mudah, syukuri kalau seorang ibu
masih ada untuk menemani kalian. Kenapa gue bilang kaya gini? Karena gak semua
orang punya kesempatan yang sama untuk merasakan semua itu saat ini. Yah gue
amat sangat menyadari gue seharusnya masih beryukur karena ibu gue masih ada
menemani gue secara fakta tapi dia gak tinggal bersama gue saat ini. Dia harus
terbaring lemah di rumah sakit karena penyakitnya. Gue gak pernah tau sewaktu dulu
kalau gue bisa negrasain kaya gini. Dulu ibu bisa beraktifitas secara normal
walau dia telah mengidap penyakit diabetes. Dia biasa mengantar gue sekolah sampai
depan gang rumah lalu dia kembali ke rumah untuk membuka warung. Sewaktu gue
pulang sekolah dia selalu menyambut gue dengan kata-kata “anak ibu udah pulang.
Gimana sekolahnya? Udah makan belum ? abis ini istirahat yah..” Dia selalu bisa
menyambut gue dengan mukanya yang dihiasi senyum. Dia sangat peduli dan
terutama sayang banget sama gue yang merupakan anak tunggal bagi dia. Jujur gue
kangen sama semua itu. Gue kangen dia bisa beraktivitas lagi. Bisa menyambut
dan mengantar gue. Dan gue inget banget selama dia sehat, gue gak akan pernah
kehilangan moment disuapin dia dan kita selalu makan sepiring berdua. Tapi saat
ini gue kehilangan semuanya. Gue di rumah selalu sendiri. Tidur sendiri,makan
sendiri, nyiapin apa-apa juga sendiri. Gue butuh ibu, gue butuh dia setidaknya
berada di rumah bersama gue.
Awal tahun 2012 gue meninggalkan
dia untuk merayakan tahun baru ke puncak dan dia menelpon gue karena dia
mengeluh sakit meriang. Tanpa gue sadari itu adalah awal dari dia sakit sampai
saat ini. Awal dari semua rangkaian dia harus keluar masuk rumah sakit. pada
awal tahun dia harus divonis mengamputasi jari kakinya tetapi dia
mempertahankannya hingga Tuhan memberikan mujizat bahwa kakinya bisa sembuh
lagi. Tetapi tak henti sampai situ luka baru muncul dan yang lebih parah dia
harus di rawat di rumah sakit. Gue bersyukur kalau waktu itu dia hanya di rawat
selama 2minggu dan boleh menjalankan rawat jalan. Namun beberapa minggu di di
rumah dia harus kembali lagi masuk rumah sakit dan yang gue sedihkan adalah dia
harus dirawat hingga mencapai waktu 1bulan lebih yang menurut gue adalah waktu
yang lama. Tak hanya itu sewaktu dia di rawat dia juga harus menjalan operasi
untuk mengamputasi 3jari kakinya. Bayangkan untuk kehilangan 1jari kakinya saja
ia tak relaa dan memperjuangkannya tetapi takdir membuatnya harus kehilangan
3jari kakinya sekaligus. Memamng rasanya akan berat sekali. Dia juga mengalami
serangkaian perawatan yang membuatnya merasa tak nyaman dan salah satunya
adalah kab lab. Sebenernya gue juga gak tau kab lab itu apa tapi yang jelas dia
harus dimasukan selang ke dalam tubuhnya. Itulah yang membuat dia susah
menggerakan tangannya lagi karena dimasukkan selang tersebut. Setelah 1bulan ia
dirawat akhirnya dia boleh pulang. Gue berfikir itu adalah terakhir kalinya dia
masuk ruma sakit dan meninggalkan gue di rumah. Tetapi Tuhan punya rencana
lain. Sehabis Natal berlangsung, ibu kehilangan nafsu makannya dan semakin hari
keadaannya terus drop. Gue berfikir gimana carqanya memertahankan agar dia bisa
sembuh dengan perawatan di rumah tetapi semua lagi-lagi karena Tuhan begitu
baik. Dia punya rencana lebih indah daripada apa yang gue bayangkan. Setelah
melalu hari pertama di tahun 2013 yaitu tepatnya tanggal 2 kondisi nyokap masih
tetap gak fit. Dia hanya terbaring di bangku panjang dirumah yang ia oakai
untuk tidur. Sedari papgi bapak sudah bilang kalau emang dia nanti sore akan
kerja dan akan pulang jam10 malam maka gue harus menjaga nyokap gue. Ketika
siang bokap neramgkat gue mulai menjalan kebiasaan untuk memberikan jus
kepadanya nyokap sebagai pengganti kurangnya asupan makanan dia belakang itu.
(Oh yah catatan banget yah, padahal tanggal 2 itu ibu lagi makan lumayan
banyak) Lanjut ke ceritanya, si ibu gak mau bangun untuk meminumnya. Berulang
kali gue tawarin tapi gak mau bangun juga sampai pada khirnya datanglah maghrib
dan di keluarga gue biasanya yang tidur pas mahgrib apalagi udah tidur lama
pasti akan dibangunkan. Gue berusaha untuk membangunkan ibu tapi tak kunjungn
bangun dan menunjukkan responnya. Gue panic saat itu dan akhirnya menggil kedua
tante gue. Pada saat itu kedua tante gue juga berusaha membangunkan ibu gue
tapi tetep gak ada responnya. Akhirnya gue telpon bapak karena udah sangking
paniknya. Tanpa harus gue jelaskan kenapa bokap harus pulang, sepertinya dia
menangkap apa yang gue maksud. Dan pada akhirnya dia di bawa ke rumah sakit.
Didalam perjalanan gue sempet panik banget karena gue sempet kehilangan nadi ibu. Gue gak bisa menahan tangis lagi disepanjang jalan. Sesampainya di rumah sakit ibu langsung dapet perewatan khusus dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya.....
Mungkin cerita yang gue maksud ini sebenernya pengen gue lanjutkan lain waktu, tapi gak nyangka lain waktu itu gue sudah merasakan bahwa gue gak punya ibu... Gue yakin sekarang sudah tenang. Terima kasih buat ibu yang begitu setia menyanyangi aku dan bapak, terima kasih karena banyak pelajaran yang kau tinggal dan banyak memori indah yang kau buat. Memamng ketika kehilangan itu akan lebih berat rasanya tapi aku yakin kau bahagia disana :")