Selasa, 18 November 2014

menanti


jika aku lelah
itu bukan salahku
jika aku menyerah
itu bukan salahmu


terlalu sering aku berlari
ketika kau berjalan
terlalu sering aku melangkah
saat kau masih bersiap


lajumu tak sama dengan lajuku
langkahku tak menyerupai langkahmu
lalu..?


jauh aku berdiri menunggu
kau melangkah dari kejauhan
tegak aku menanti kau datang
hingga semua berubah menjadi kejenuhan


terlalu jauhkah aku menetapkan garis finish
atau terlalu cepatkah aku sampai


disini kah aku berhenti
haruskah ku menunggu lebih lama
hingga kau sampai padaku
atau haruskah cerita ini berubah


entah...
jawaban tak pernah terlintas
pikirku tak pernah sampai
hingga hambar hati menanti

Sabtu, 15 November 2014

tunjukanlah

pintu tertutup rapat
aku mengambilkan kunci
namun kau tak membukanya


air terbuka meluap
aku menunjuk keran
tetapi kau tak mematikannya


kotor menghiasi lantai
aku memberikan lap
namun kau terdiam memandangi


aku berusaha
kamu tidak
aku bergerak
kamu mematung


lalu apa lagi yang aku harapkan
bukankah ini milikku sendiri


aku bukanlah peramal
aku juga bukan orang pintar
yang mampu membaca pikiran



















































tunjukkanlah sesuatu padaku ...

Rabu, 12 November 2014

milik saya kah? untuk saya kah?


"milik saya kah ini?" "untuk saya kah ini?" mungkin pertanyaan seperti itu pernah muncul di otak kita, atau bila belum mungkin akan muncul di otak kita. contohnya saja saat kita mendengar firman Tuhan dibagikan terkadang kita berfikir untuk saya kah firman ini atau jika kita mengini suatu benda lalu kita bertanya milik saya kah ini suatu hari nanti.


mungkin saya akan membahas pertanyaan kedua terlebih dahulu. jika suatu hal datang pada kita bisa jadi itu untuk kita atau pilihan lain kita hanyalah sebuah "tempat transit" dimana sebenarnya hal itu diperuntukkan bagi orang lain. jika pilihan kedua yang terjadi ada dua kemungkinan, apakah kita mau membagikannya atau kita mengklaim bahwa hal itu untuk kita. biasanya kita akan lebih sering mengklaim bahwa hal itu untuk kita apabila hal yang ada berwujud benda nyata (bisa dilihat atau diraba). namun yang terjadi pada saya saat ini adalah bukanlah hal itu. belakangan ini gereja saya sedang membahas mengenai suatu tema. tentu saja banyak firman yang dibagikan mengenai tema tersebut. namun dilihat dari kehidupan saya mungkin saya merasa saya sudah cukup dalam keadaan baik menjalankan itu tetapi bukan berarti saya sempurna menjalankannya. di sisi lain justru ada beberapa kerabat saya yang mungkin butuh mendengarkan hal ini namun terbatas "aliran" jadi sulit penyampaiannya. saya merasa sebagai "tempat transit". lalu terkadang saya berpikir "kenapa harus saya?" dari sekian banyak orang dari kelompok kami, mengapa saya? dan itu bukan hanya satu orang yang datang namun beberapa. dari jenis cerita yang berbeda namun satu tema. Tuhan mengatur sedemikian rupa. saya kaum minoritas sendiri, mereka berbeda namun saya yang jadi tempat transit. disini saya berfikir bahwa setiap hal yang datang pada kita belum tentu untuk kita namun bisa saja kita yang justru akan membagikannya. berbagi bukan saja pada hal yang tidak dapat dihitung dengan uang (biasanya biar gak rugi), terkadang "rejeki" yang mungkin ada datang pada kita hanya sekedar transit untuk dibagikan pada yang lain. ini positifnya.


lalu pertanyaan yang pertama. setiap orang pasti ingin memiliki sesuatu di hidupnya. mulai dari hal yang sederhana seperti kebutuhannya atau hal besar seperti impiannya. lalu ketika hal itu di depan mata kita akan bertanya milik saya kah ini? bagaimana kalau jawabannya tidak. itu bukan milik kita. kecewa kah kita, akankah pembelaan terlontar sehingga memaksa itu menjadi milik kita. jika kita tetap menginginkannya, egois kah kita? lalu saya berfikir egois kah saya, egois kah saya ketika semua yang saya harapkan tak sesuai dengan semestinya, jika itu bukan milik saya, jika itu tak akan pernah menjadi milik saya? lalu mengapa itu datang di depan mata saya jika tak menjadi milik saya? ini negatifnya.


sekian.

Sabtu, 08 November 2014

kapan?

kata tanya kapan merujuk pada jawaban mengenai waktu. dan menurut gue belakangan ini banyak banget orang yang melontarkan kata tanya seperti itu. mulai dari pertanyaan sederhana sampe pertanyaan yang mungkin gue sendiri gak mampu menjawabnya. contohnya seperti kapan mau jalan, kapan nulis lagi, kapan bawa renungan, kapan mau bla bla bla..


kalau yang masih bisa gue jawab sih enak aja tapi kalau pertanyaan yang gue sendiri gak bisa jawab kadang gue cuma bisa ketawa sambil bertanya sendiri kapan yah? hahaha trus siapa dong yang mau jawab?


hmm salah seorang temen gereja dulu pernah bawa renungan yang intinya segala sesuatu ada waktunya dan menurut gue memang benar walaupun itu jadi jawaban klasik dan terkesan menghindari maksud pertanyaan "kapan" sesungguhnya. tapi sejujurnya memang gue sendiri gak tau kapan dan biasanya ada beberapa faktor yang membuat gue gak tau itu kapan. salah satunya faktor karena itu bukan kuasa gue menentukan kapan terjadinya. terkadang di beberapa kondisi gue hanya bisa menunggu suatu kejadian terjadi tanpa bisa kasi effort lebih agar kejadian itu "dipaksa" lekas terjadi. entah kejadian itu berada di dalam kuasa orang lain, ataupun Tuhan sendiri yang memegang kuasa itu walaupun secara keseluruhan memang Tuhan yang memegang kuasa. tapi kalau yang pinter "you know what i mean" lah.. hahaha


setiap kejadian memiliki waktunya sendiri dan setiap waktu memiliki kejadian yang berbeda. so, semua punya porsinya masing-masing kapan akan terjadi dan akan jauh lebih indah ketika kita membiarkan semuanya berjalan sebagaimana semestinya. namun bukan berarti kata tanya "kapan" tak perlu lagi dilontarkan, mungkin bisa jadi pengingat kita. dan semuanya kembali pada keadaan dan kondisi yang disesuaikan.


have a great moment at the right time guys :)

Senin, 03 November 2014

denganmu


denganmu terajut impian indah dimasa depan
denganmu terukir kisah manis saat ini
dan denganmu terlukis masa lalu untuk dinikmati


hidupku penuh karya bersamamu
hariku lengkap dengan cerita bersamamu
dan waktuku tak terbuang sia-sia bersamamu


kamu layaknya penuntunku untuk melangkah lebih jauh
kamu bagaikan penghibur disaat aku terjatuh
dan kamu seperti pemandu sorak yang selalu memberi semangat


udara, air terasa cukup bagiku
namun takkan lengkap tanpamu
makan, minum memuaskanku
namun bukanlah hatiku


dan saat ini bahagiaku adalah berasa disisimu