Kamis, 16 Mei 2013

....

"Hidup itu gak selamanya diatas, tapi terkadang kita bisa berada di bawah ataupun ditengah". Yah kata-kata ini bener banget. Hidup itu terkadang membawa kita kebanyak perasaan, kadang kita bisa merasa seneng, kadang kita merasa sedih, kehilangan, galau, kecewa dan lain sebagainya. Waktu yang diperlukan dalam perubahan perasaan itu juga bervariasi kadang dalam waktu yang singkat perasaan kita berubah, tapi kadang dalam jangka waktu yang lama perasaan kita baru berubah.
Belakangan ini gue merasa bahwa perasaan gue itu cepet banget berubah. Kadang gue merasa kesepian, merasa kehilangan, tapi kadang kesenangan datang dengan cepat dan berubah lagi menjadi suatu kekecewaan.

Mungkin banyak orang yang tau gue dalam sebuah masa penantian, penantian yang cukup panjang dan telah banyak memberi pelajaran. Pelajaran berharga dimana kesetiaan diuji, pelajaran untuk tidak menggunakan emosi dalam mengambil keputusan, pelajaran untuk menempatkan seseorang dengan benar dalam hidup kita. Sudah lama,yah sudah 3tahun lebih gue menanti seseorang dan penantian itu gak berjalan mulus. Tapi belakangan ini gue merasa sudah ada titik terang dalam penantian gue. Gue merasa cukup bahagia dan senang kalau gue bisa jalan dengan seseorang yang gue nantikan hanya berdua, itu adalah kemajuan pesat yang gue alami selama 3tahun gue nunggu. Moment yang pernah gue pikirkan terjadi. Gue pergi ke makam orang tua kita bersama, lalu kami pergi ke kedai makanan untuk banyak mensharekan kisah hidup kita yang gak jauh beda, dan berlanjut mengobrol dengan neneknya. Sederhana tapi menyentuh, terkesan kekeluargaan dan gue suka, seneng gak karuan, bahkan gue gak pungkiri gak bisa melepas senyum sampai beberapa hari. Bahkan semua orang bisa liat ada arti dari senyum gue (haha). Untuk pertemuan yang kedua dia juga rela nganter gue ke rumah dengan alasan "ngambil kaset ps ke rumah omnnya yang deket rumah gue." Padahal jarak yang kami tempuh untuk dia nganter gue pulang ke rumah itu jauh banget, udah gitu kita kejebak ujan dan banjir dan hari itu adalah hari dimana gue masih Ujian Nasional. Pulang-pulang gue sakit karena gak makan dari pagi, gue panas, pilek dan batuk. Dia ngasi perhatian yang cukup membuat gue senang walaupun gak berlangsung lama. Gak beda jauh sama gue dia pun terserang flu sampe-sampe dia harus bolos kuliah. Berasa bersalah dan gue juga bikin buku akun (yang baru dibeli buat awal serius belajar) basah. Dua moment itu bikin gue merasa bahwa itu pertanda baik tapi mungkin gue salah karena kayanya itu gak ada artinya sama sekali buat dia.

"@echasoemantri: hidup adalah pilihan. memilih pasangan yang salah = kehilangan banyak hal baik, termasuk teman - sahabat. #ES"

Dia yang gue tunggu mungkin lebih memilih untuk menjaga perasaan temannya ketimbang melanjutkan hubungan yang gue anggap sudah dekat dengan gue. Entah gue yang kegeeran atau gue yang terlalu berharap atau gue punya kacamata yang salah dalam menilai sesuatu. Semuanya terkesan rumit karena kesalahan gue. Oke sebenernya itu bukan kesalahan tapi memang itu skenario yang ada di hidup gue. Gue punya mantan yang notabennya temennya dia dan mantan gue masih mengharapkan gue (ini entah perasaan gue aja atau emang bener [ mungkin gue geer atau apa tapi terserahlah]). Hmmm gue berasa diangkat tinggi-tinggi lalu dibuang tanpa dosa. Gue gak ngerti perasaan gue saat ini kaya gimana. Hancur berantakan mungkin, gak ngerti harus apa, gak tau lagi meski bilang apa. Semua berasa abstrak. Isi hati berasa diacak-acak. Pengen banget teriak "maksud lo apa" atau setidaknya gue pergi ke tempat yang sunyi yang bisa gue jadiin tempat membuang segala masalah yang ada.

Gue jadi teringat kata-kata dia disaat dia jadian sama cewenya dlu, bunyinya seperti ini :

"Gue nganggep orang2 gereja gue tuh keluarga gue,ga ada yg lebih dr itu.. "

Ini dia tulis di jejaring sosial facebook ketika gue, dia, dan pacarnya dulu lagi ngobrol. Mungkin dia gak akan ingat pernah ngomong ini tapi gue menyadari meaning dari kata-kata ini. Mungkin ini emang isi hatinya dia dari dulu. Gue cuma dianggap keluarganya, gue dianggap anak kecil yang bisa dijadiin adiknya. Dan selama ini gue salah berharap banyak. Mungkin... Mungkin... Dan banyak kata mungkin yang lainnya kalau misalnya ini terus difikirkan. Tapi gue yakin sampe kepala botak pun gue gak akan pernah bisa tau apa yang akan terjadi di depan. Gak ada yang tau masa depan selain Tuhan.

I wish the best for you if you chose to go away from me... And I don't know what i will try? Keep this feeling or go away from you and forget all about you...