"Hidup itu gak selamanya diatas, tapi
terkadang kita bisa berada di bawah ataupun ditengah". Yah kata-kata ini
bener banget. Hidup itu terkadang membawa kita kebanyak perasaan, kadang kita
bisa merasa seneng, kadang kita merasa sedih, kehilangan, galau, kecewa dan
lain sebagainya. Waktu yang diperlukan dalam perubahan perasaan itu juga
bervariasi kadang dalam waktu yang singkat perasaan kita berubah, tapi kadang
dalam jangka waktu yang lama perasaan kita baru berubah.
Belakangan ini gue merasa bahwa perasaan
gue itu cepet banget berubah. Kadang gue merasa kesepian, merasa kehilangan,
tapi kadang kesenangan datang dengan cepat dan berubah lagi menjadi suatu
kekecewaan.
Mungkin banyak orang yang tau gue dalam
sebuah masa penantian, penantian yang cukup panjang dan telah banyak memberi
pelajaran. Pelajaran berharga dimana kesetiaan diuji, pelajaran untuk tidak
menggunakan emosi dalam mengambil keputusan, pelajaran untuk menempatkan
seseorang dengan benar dalam hidup kita. Sudah lama,yah sudah 3tahun lebih gue
menanti seseorang dan penantian itu gak berjalan mulus. Tapi belakangan ini gue
merasa sudah ada titik terang dalam penantian gue. Gue merasa cukup bahagia dan
senang kalau gue bisa jalan dengan seseorang yang gue nantikan hanya berdua,
itu adalah kemajuan pesat yang gue alami selama 3tahun gue nunggu. Moment yang
pernah gue pikirkan terjadi. Gue pergi ke makam orang tua kita bersama, lalu
kami pergi ke kedai makanan untuk banyak mensharekan kisah hidup kita yang gak
jauh beda, dan berlanjut mengobrol dengan neneknya. Sederhana tapi menyentuh,
terkesan kekeluargaan dan gue suka, seneng gak karuan, bahkan gue gak pungkiri
gak bisa melepas senyum sampai beberapa hari. Bahkan semua orang bisa liat ada
arti dari senyum gue (haha). Untuk pertemuan yang kedua dia juga rela nganter
gue ke rumah dengan alasan "ngambil kaset ps ke rumah omnnya yang deket
rumah gue." Padahal jarak yang kami tempuh untuk dia nganter gue pulang ke
rumah itu jauh banget, udah gitu kita kejebak ujan dan banjir dan hari itu
adalah hari dimana gue masih Ujian Nasional. Pulang-pulang gue sakit karena gak
makan dari pagi, gue panas, pilek dan batuk. Dia ngasi perhatian yang cukup
membuat gue senang walaupun gak berlangsung lama. Gak beda jauh sama gue dia
pun terserang flu sampe-sampe dia harus bolos kuliah. Berasa bersalah dan gue
juga bikin buku akun (yang baru dibeli buat awal serius belajar) basah. Dua
moment itu bikin gue merasa bahwa itu pertanda baik tapi mungkin gue salah
karena kayanya itu gak ada artinya sama sekali buat dia.
"@echasoemantri: hidup adalah
pilihan. memilih pasangan yang salah = kehilangan banyak hal baik, termasuk
teman - sahabat. #ES"
Dia yang gue tunggu mungkin lebih memilih
untuk menjaga perasaan temannya ketimbang melanjutkan hubungan yang gue anggap
sudah dekat dengan gue. Entah gue yang kegeeran atau gue yang terlalu berharap
atau gue punya kacamata yang salah dalam menilai sesuatu. Semuanya terkesan
rumit karena kesalahan gue. Oke sebenernya itu bukan kesalahan tapi memang itu
skenario yang ada di hidup gue. Gue punya mantan yang notabennya temennya dia
dan mantan gue masih mengharapkan gue (ini entah perasaan gue aja atau emang
bener [ mungkin gue geer atau apa tapi terserahlah]). Hmmm gue berasa diangkat tinggi-tinggi
lalu dibuang tanpa dosa. Gue gak ngerti perasaan gue saat ini kaya gimana.
Hancur berantakan mungkin, gak ngerti harus apa, gak tau lagi meski bilang apa.
Semua berasa abstrak. Isi hati berasa diacak-acak. Pengen banget teriak
"maksud lo apa" atau setidaknya gue pergi ke tempat yang sunyi yang
bisa gue jadiin tempat membuang segala masalah yang ada.
Gue jadi teringat kata-kata dia disaat dia
jadian sama cewenya dlu, bunyinya seperti ini :
"Gue nganggep orang2 gereja gue tuh
keluarga gue,ga ada yg lebih dr itu.. "
Ini dia tulis di jejaring sosial facebook
ketika gue, dia, dan pacarnya dulu lagi ngobrol. Mungkin dia gak akan ingat
pernah ngomong ini tapi gue menyadari meaning dari kata-kata ini. Mungkin ini
emang isi hatinya dia dari dulu. Gue cuma dianggap keluarganya, gue dianggap
anak kecil yang bisa dijadiin adiknya. Dan selama ini gue salah berharap
banyak. Mungkin... Mungkin... Dan banyak kata mungkin yang lainnya kalau
misalnya ini terus difikirkan. Tapi gue yakin sampe kepala botak pun gue gak
akan pernah bisa tau apa yang akan terjadi di depan. Gak ada yang tau masa
depan selain Tuhan.
I wish the best for you if you chose to
go away from me... And I don't know what i will try? Keep this feeling or go
away from you and forget all about you...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar