Kamis, 31 Juli 2014
life is flat
sebelumnya aku mengucap syukur kepada Tuhan masih menyisahkan satu orang tua padaku saat ini. semua karena Tuhan masih berbaik hati dalam hidupku. aku tak pernah membayangkan bagaimana jika aku hidup seorang diri tanpa saudara kandung dan juga kedua orang tua? mungkin aku bisa saja gila atau hidupku tak terarah. tapi tak seindah yang ku harapkan ketika aku memiliki satu saja orang tua tersisa. ini bukan berarti ayahku tak sayang padaku, bukan berarti dia jahat atau memperlakukanku secara kasar. justru semua terkesan baik-baik saja atau bahkan bisa jadi ada yang ingin posisi sepertiku ketika semua apa yang kuingini jarang ditolak oleh ayahku selagi ia mampu mengiyakannya. mungkin aku yang terlalu bodoh membuat semuanya menjadi begitu rumit atau aku terkesan munafik dengan tidak menikmati semua perilaku yang aku dapat. tapi tak semuanya begitu indah terlihat. kesepian, perhatian yang merosot drastis, dan segalanya yang serba bebas... layakkah aku membanggakannya? layakkah aku merasa bahagia ini bagianku sekarang? bukan aku tak mensyukuri segalanya, mungkin lebih tepatnya aku belum terbiasa dengan segalanya. saat ini aku bagaikan berjalan pada jalan yang lurus tanpa hambatan dan jalan lurus itulah yang membuatku menangis, menangis karena aku mencari belokan dan tanjakan, meninginkan batu sandungan dan goncangan. hatiku begitu sesak merasakan semua kekosongan bukan sebuah kepenuhan. jenuh? ya, mungkin. cari penghiburan? ya, sudah. dapat kebahagiaan? ya, semu. aku tak berharap hidupku kembali seperti dulu atau hidupku dilengkapi orang baru, aku hanya ingin kembali merasakan tantangan yang ada. tanpa ibu aku bisa namun bukan berarti aku tak mengingininya dan tak merindukannya. tapi aku tau saat itulah saatnya ia pergi. ikhlas? ya, tentu. melupakannya? tidak, dia bagian hidupku. saat ini entah apa yang membuatku tak mudah percaya dengan orang lain untuk tau apa yang sedang terjadi padaku, bukan karena aku telah disakiti atau apapun alasannya tapi aku hanya mampu menyimpannya sendiri sampai aku tak tau harus menyimpannya dimana lagi. sulit mengungkapkan apa yang sedang terjadi, tapi inilah.. bahkan aku tak mengerti arah hatiku berbicara. semua mengalir begitu saja tak meninggalkan bekas. semua begitu lurus dan membuatku jenuh. semua menjadi terasa asing dan aku takut untuk terbiasa dengan keasingan itu. apa aku salah tak ingin terlalu banyak menikmati hal baru? walau aku tau waktu memaksaku untuk menikmatinya. sampai kapan? sampai kapan belokan dan tanjakan akan ku temukan? sampai mana aku menemui batu sandungan dan goncangan? hingga aku tersadar aku masih merasakan hidup dan bukan mati!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar