secara umum rumah adalah pilihan terbaik bagi seseorang beristirahat dari segala rutinitas harian yang ia jalani. bertemu dengan keluarga dan melepas lelah bersama menjadi suatu keinginan yang menggebu ketika orang itu merasa lelah. tetapi memang tak dapat dipungkiri bahwa segala sesuatu tak seluruhnya berjalan seperti pada umumnya.
ada tipe orang yang sebenarnya muak berada dalam rumahnya dan orang ini belum tentu broken home loh. hanya saja mungkin keluarga yang ia miliki mempunya ketimpangan disalah satu bagian keluarga tersebut. mungkin orang seperti ini hanya menganggap rumah sebagai tempat "numpang tidur di malam hari" dan tempat menyantumkan alamat bagi kelengkapan identitas pribadinya.
dan biasanya bukan karena rumah itu tidak nyaman seperti kotor,bau, tak terurus atau lainnya tetapi alasan utama orang tidak bisa nyaman di dalam rumah karena orang yang berada dalam satu atap bersamanya. bisa saja orang lain itu menyebalkan hatinya, bersikap recok, tak peduli dengan keberadaan dirinya, atau beberapa tingkah lainnya yang mungkin tidak disenangi penerima perilaku sehingga merasa tak nyaman dengan rumah tersebut.
sebenernya gue tidak membenarkan bahwa berkeliaran di luar rumah dan sekedar numpang tidur di rumah adalah benar tetapi bila kita liat dari sudut pandang lain sebenarnya ada yang ia cari di luar sana dimana tidak tersedia di dalam rumah. mungkin orang-orang di dalam rumahnya mampu menyadari dan mulai menyediakan solusi apa yang terbaik atau mungkin jika orang lain tak peduli dengan keadaan tersebut maka
sikap diri kita yang harus dirubah ( sebenernya gue kadang suka dengan kata-kata "kalau bisa sendiri,kenapa harus nunggu orang lain?"). jadi orang tersebut mampu mengatasinya dengan merubah sikapnya menerima segala kekukarangan yang ada di rumah tersebut.
karena bagaimanapun sebetulnya rumah adalah tempat terbaik untuk berlindung, berteduh, dan berkumpul. dan rumah yang dimaksud adalah sebuah bangunan yang memang jadi tempat berlindung kita bukan bangunan tempat pelarian kita..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar