Minggu, 09 Desember 2012

2012


Mentari pagi ini emang gak secerah di musim kemarau tapi cahaya mentari pagi ini sangat indah karena di temani oleh udara sejuk serta awan yang indah. Ketika melihat fenomena alam yang begitu indah ini aku langsung teringat kasih karunia Bapa yang begitu luar biasa pada kehidupanku di taun 2012 ini. Hmm menjelang natal rasanya penting untuk mengingat dan belajar mengucap syukur dengan apa yang telah diberi Bapa selama ini. Awla tahun yang ku jalani di tahun 2012 memang bukan awal tahun yang menyenangkan. Saat pergantian tahun berlangsung, aku memang gak ada di rumah bersama keluarga kecilku, bersama bapak dan ibu. Aku berada di puncak bersama kerabat keluargaku untuk merayakan tahun bersama sambil menikmati liburan. Namun ketika menjalani liburan di sana aku memamng sudah merasa tak enak hati, yah betul saja ternyata ibuku menelfon dan dia bilang kalau dia sakit. aku mulai khawatir dan inilah menjadi tahun ujianku. Di awal tahun aku juga mengambil keputusan untuk dibaptis tanggla 8 Januari 2012 dan ini sebagai pernyataanku bahwa aku sungguh-sungguh ingin mengikut Yesus. Tapi seperti yang tertera sebelumnya bahwa mengikutinya kita bukan terlepas dari maslah namun kita akan beljar untuk memikul salib seperti Yesus. Aku mengalaminya, dan benar-benar mengalaminya. Di awal tahun bahkan ibuku sudah sakit tapi awlanya kupikir itu sakit meriang biasa yang akan sembuh dengan sendirinya, tapi tenyata dugaanku salah. Ini malah menjadi titik permulaan dimana ibuku sakit berkepanjangan selama tahun 2012. Ujian mulai datang dengan keputusan dokter yang ingin mengamputasi jari kaki ibu. Ibu keluar uang banyak untuk biaya berobatnya di rumah sakit dan aku serta uang sekolahku terlantar begitu saja. Awlanya sebulan, kemudian dua bulan, kemudian 3bulan, lalu berlanjut hingga akhirnya lebih dari 4 bulan aku gak bayar sekolah. Ibuku juga gak kunjung sembuh dan pengharapanku hanya pada Tuhan. Disaat benar-benar terpuruk Tuhan menyelamatkanku. Dia member  jalan yang begitu luar biasa yang menunjukkan kuasaNya dan kemuliaanNya. Aku mengucap syukur atas itu Tuhan. Oh yah sebeluma awal tahun di mulai aku memang merencanakan untuk mengejar PPA BCA suatu beasiswa dari bank untuk kuliah. Hmmm namun Tuhan punya rencana lain, Dia memberikan beasiswa bahkan sebelum aku sempat aku berpikir aku akan mendaptkannya. Ketika kondisi keuanganku benar-benar terpuruk aku mendapatkan beasiswa itu dan uang sekolah yang menunggak dibayar luanas oleh oaring tua asuhku. Sungguh luar biasa Tuhanku. Namun tak berhenti pada itu saja. Ketika mamaku tak mau diamputasi dia lebih memilih mempertahankannya, memang dia sembuh namun beberapa bulan kemudian dia harus terpuruk lagi dalam penyakitnya dan msuk rumah sakit hampir 2minggu lebih. Ini menjadi pembelajaran baru buat hidupku, belajar untuk gak bergantung lagi sama ibu karena dia gak ada di rumah ndan belajar untuk mencari nafkah membantu ibu. Dan keuangan kami terus bergejolak karena ia harus masuk rumah sakit, kami dihina karena kami gak punya uang cukup untuk membiayai biaya rumah sakit yang ditagihkan pada kami. Walaupun ibu keluar tapi ada rasa ak mengenakkan pada kehidupan kami. Waktu berjalan 1 bulan disaat aku berulang tahun dan ibuku 3 hari setelahnya namun penyakit ibuku kambuh bhakan aku harus belajar untuk bangun setiap tengah malam arena ibuku selalu muntah dan merintih sakit. dia semakin kurus dan semakin pucat. Pada akhirnya keluargaku sepakat untuk membanya ke rumah sakit. dan kenyataan pahit pun harus kami terima kalau memang ibu jarinya harus diamputasi bahkan 3 sekaligus. Bayangkan kehilangan 1 jari saja iya begitu tak rela, bagaimana perasannya kehilangan 3 jari sekaligus? Bagaimana rasanya ketika ia juga harus memikirkan biaya pengobatannya untuk sembuh yang begitu besar? 5 minggu lebih ia di rawat di rumha sakit dan jangka waktu yang sama aku harus belajar mandiri menata kehidupanku tanpa bantuan kedua orang tuaku. Aku yang biasanya menjadi center di keluarga harus berjalan melangkah menyiapkan segala sesuatu yang ku perlukan dengan sendirinya. Aku yang bisanya punya reminder tetap yaitu ibuku dan ayahku harus punya daya ingat sendiri untuk semua rutinitasku. Bahkan masalah sepele seperti jadwal sepatuku saja aku pernah melakukan kesalahan. Bahkan untuk makan saja aku malas untuk mencariny dan lebih baik menahan lapar dibandingkan aku harus memilih menu makananku sendiri. Aku yang terbiasa dengan mereka harus erbiasa sendiri tanpa mereka. Aku yang selalu diperhatikan mereka harus kehilangan sementara perhatian itu. bahkan permasalahan siapa yang menjadi ceneter di keluarga kami pun harus terjadi. Aku yang biasanay yang akan dilempari pertnyaan “kamu udah makan? Kamu udah kerjain ini? Kamu udah itu? kamu bisa ini? Bagaimana keadaanmu?” semua itu harus terbalik sehingga aku yang harus melemparkan pertanyaan itu ke ibuku namun aku gak pernah melakukaknnya hingga saatnya ibu merasa gak diperhatiin aku. Aku yang begitu sibuk dengan sekolahku (walaupun nilaiku merosot) kurang memperhatikannya. Dan semua itu menambah beban berat apalagi saat aku ketahui tagihan operasi dan biaya pengobatan ibuku selama 5 minggu menembus angka puluhan juta. Aku gak pernah dikasi tau sampe pada akhirnya aku dikasi tau. Mereka ,menyembunyikan itu karena mereka gak mau aku stress namun itu gak adil karena aku gak menanggung apa yang diderita mereka. Hmm permasalahan semakin pelik menuju akhir tahun tapi sekali lagi Tuhan yang punya bdan ku sembah itu dasyat banget. Bayangin dengan kondisi keuangan yang gak memungkinkan Tuhan bisa bayar perawatan nyokap gue dan gue hanya mendapatkan kata-kata free. Gue seneng luar biasa namun ada satu hal yang masih menjadi beban. Haha maaf yah yang itu belum bisa di share. Selessai nyokap keluar rumah sakit, dai amsih harus bolak balik ke rumah sakit seminggu sekali dan itu juga memeakan uang yang gak sedikit ditambaha lagi dengan ancaman bokap gue keluar dari kerjaan karena udah 2 bulan dia gak masuk ngurus nyokap gue. Emang bokap gue udah gak penates lagi untuk bekerja karena sebenernya dia sudah memasuki dunia pensiun tapi yah mau gimana lagi. Dan akhirnya bokap kembali belerja, namun gue menambah masalah baru dalam keluarga gue dengan nilai gue yang menurun drastic. Sumpaah bener-bener ketinggalan jauh ama temen-temen gue. Gue gak ngerti deh apa yang salah. Dan gue akan berusaha memeprbaikinya. Dan gue masih terus berjuang untuk melewati tahun ini karena gue yakin dan percaya Tuhan punye rencana besar dan hebat bguat kelurga gue. Dan tahun ini merupakan tahun perkenan Tuhan yang begitu luar biasa. Gue mencoba terus berjalan meski tertatih untuk menuju akhir tahun ini. Yah hidup memang harus berjuang makanya gue menvoba tetap meiliki semangat juang walau gue gak tau akhirnya nanti gimana. Semoga Tuhan terus bersama gue dan keluarga. Jesus bless us

Tidak ada komentar:

Posting Komentar