Mentari pagi ini emang gak
secerah di musim kemarau tapi cahaya mentari pagi ini sangat indah karena di
temani oleh udara sejuk serta awan yang indah. Ketika melihat fenomena alam
yang begitu indah ini aku langsung teringat kasih karunia Bapa yang begitu luar
biasa pada kehidupanku di taun 2012 ini. Hmm menjelang natal rasanya penting
untuk mengingat dan belajar mengucap syukur dengan apa yang telah diberi Bapa
selama ini. Awla tahun yang ku jalani di tahun 2012 memang bukan awal tahun
yang menyenangkan. Saat pergantian tahun berlangsung, aku memang gak ada di
rumah bersama keluarga kecilku, bersama bapak dan ibu. Aku berada di puncak
bersama kerabat keluargaku untuk merayakan tahun bersama sambil menikmati
liburan. Namun ketika menjalani liburan di sana aku memamng sudah merasa tak
enak hati, yah betul saja ternyata ibuku menelfon dan dia bilang kalau dia
sakit. aku mulai khawatir dan inilah menjadi tahun ujianku. Di awal tahun aku
juga mengambil keputusan untuk dibaptis tanggla 8 Januari 2012 dan ini sebagai
pernyataanku bahwa aku sungguh-sungguh ingin mengikut Yesus. Tapi seperti yang
tertera sebelumnya bahwa mengikutinya kita bukan terlepas dari maslah namun
kita akan beljar untuk memikul salib seperti Yesus. Aku mengalaminya, dan
benar-benar mengalaminya. Di awal tahun bahkan ibuku sudah sakit tapi awlanya
kupikir itu sakit meriang biasa yang akan sembuh dengan sendirinya, tapi
tenyata dugaanku salah. Ini malah menjadi titik permulaan dimana ibuku sakit
berkepanjangan selama tahun 2012. Ujian mulai datang dengan keputusan dokter
yang ingin mengamputasi jari kaki ibu. Ibu keluar uang banyak untuk biaya
berobatnya di rumah sakit dan aku serta uang sekolahku terlantar begitu saja.
Awlanya sebulan, kemudian dua bulan, kemudian 3bulan, lalu berlanjut hingga akhirnya
lebih dari 4 bulan aku gak bayar sekolah. Ibuku juga gak kunjung sembuh dan
pengharapanku hanya pada Tuhan. Disaat benar-benar terpuruk Tuhan
menyelamatkanku. Dia member jalan yang
begitu luar biasa yang menunjukkan kuasaNya dan kemuliaanNya. Aku mengucap
syukur atas itu Tuhan. Oh yah sebeluma awal tahun di mulai aku memang
merencanakan untuk mengejar PPA BCA suatu beasiswa dari bank untuk kuliah. Hmmm
namun Tuhan punya rencana lain, Dia memberikan beasiswa bahkan sebelum aku
sempat aku berpikir aku akan mendaptkannya. Ketika kondisi keuanganku
benar-benar terpuruk aku mendapatkan beasiswa itu dan uang sekolah yang
menunggak dibayar luanas oleh oaring tua asuhku. Sungguh luar biasa Tuhanku.
Namun tak berhenti pada itu saja. Ketika mamaku tak mau diamputasi dia lebih
memilih mempertahankannya, memang dia sembuh namun beberapa bulan kemudian dia
harus terpuruk lagi dalam penyakitnya dan msuk rumah sakit hampir 2minggu
lebih. Ini menjadi pembelajaran baru buat hidupku, belajar untuk gak bergantung
lagi sama ibu karena dia gak ada di rumah ndan belajar untuk mencari nafkah
membantu ibu. Dan keuangan kami terus bergejolak karena ia harus masuk rumah
sakit, kami dihina karena kami gak punya uang cukup untuk membiayai biaya rumah
sakit yang ditagihkan pada kami. Walaupun ibu keluar tapi ada rasa ak
mengenakkan pada kehidupan kami. Waktu berjalan 1 bulan disaat aku berulang
tahun dan ibuku 3 hari setelahnya namun penyakit ibuku kambuh bhakan aku harus
belajar untuk bangun setiap tengah malam arena ibuku selalu muntah dan merintih
sakit. dia semakin kurus dan semakin pucat. Pada akhirnya keluargaku sepakat
untuk membanya ke rumah sakit. dan kenyataan pahit pun harus kami terima kalau
memang ibu jarinya harus diamputasi bahkan 3 sekaligus. Bayangkan kehilangan 1 jari
saja iya begitu tak rela, bagaimana perasannya kehilangan 3 jari sekaligus?
Bagaimana rasanya ketika ia juga harus memikirkan biaya pengobatannya untuk
sembuh yang begitu besar? 5 minggu lebih ia di rawat di rumha sakit dan jangka
waktu yang sama aku harus belajar mandiri menata kehidupanku tanpa bantuan
kedua orang tuaku. Aku yang biasanya menjadi center di keluarga harus berjalan
melangkah menyiapkan segala sesuatu yang ku perlukan dengan sendirinya. Aku
yang bisanya punya reminder tetap yaitu ibuku dan ayahku harus punya daya ingat
sendiri untuk semua rutinitasku. Bahkan masalah sepele seperti jadwal sepatuku
saja aku pernah melakukan kesalahan. Bahkan untuk makan saja aku malas untuk
mencariny dan lebih baik menahan lapar dibandingkan aku harus memilih menu
makananku sendiri. Aku yang terbiasa dengan mereka harus erbiasa sendiri tanpa
mereka. Aku yang selalu diperhatikan mereka harus kehilangan sementara
perhatian itu. bahkan permasalahan siapa yang menjadi ceneter di keluarga kami
pun harus terjadi. Aku yang biasanay yang akan dilempari pertnyaan “kamu udah
makan? Kamu udah kerjain ini? Kamu udah itu? kamu bisa ini? Bagaimana
keadaanmu?” semua itu harus terbalik sehingga aku yang harus melemparkan
pertanyaan itu ke ibuku namun aku gak pernah melakukaknnya hingga saatnya ibu
merasa gak diperhatiin aku. Aku yang begitu sibuk dengan sekolahku (walaupun
nilaiku merosot) kurang memperhatikannya. Dan semua itu menambah beban berat
apalagi saat aku ketahui tagihan operasi dan biaya pengobatan ibuku selama 5 minggu
menembus angka puluhan juta. Aku gak pernah dikasi tau sampe pada akhirnya aku
dikasi tau. Mereka ,menyembunyikan itu karena mereka gak mau aku stress namun
itu gak adil karena aku gak menanggung apa yang diderita mereka. Hmm
permasalahan semakin pelik menuju akhir tahun tapi sekali lagi Tuhan yang punya
bdan ku sembah itu dasyat banget. Bayangin dengan kondisi keuangan yang gak
memungkinkan Tuhan bisa bayar perawatan nyokap gue dan gue hanya mendapatkan
kata-kata free. Gue seneng luar biasa namun ada satu hal yang masih menjadi
beban. Haha maaf yah yang itu belum bisa di share. Selessai nyokap keluar rumah
sakit, dai amsih harus bolak balik ke rumah sakit seminggu sekali dan itu juga
memeakan uang yang gak sedikit ditambaha lagi dengan ancaman bokap gue keluar
dari kerjaan karena udah 2 bulan dia gak masuk ngurus nyokap gue. Emang bokap
gue udah gak penates lagi untuk bekerja karena sebenernya dia sudah memasuki
dunia pensiun tapi yah mau gimana lagi. Dan akhirnya bokap kembali belerja,
namun gue menambah masalah baru dalam keluarga gue dengan nilai gue yang
menurun drastic. Sumpaah bener-bener ketinggalan jauh ama temen-temen gue. Gue
gak ngerti deh apa yang salah. Dan gue akan berusaha memeprbaikinya. Dan gue
masih terus berjuang untuk melewati tahun ini karena gue yakin dan percaya
Tuhan punye rencana besar dan hebat bguat kelurga gue. Dan tahun ini merupakan
tahun perkenan Tuhan yang begitu luar biasa. Gue mencoba terus berjalan meski
tertatih untuk menuju akhir tahun ini. Yah hidup memang harus berjuang makanya
gue menvoba tetap meiliki semangat juang walau gue gak tau akhirnya nanti
gimana. Semoga Tuhan terus bersama gue dan keluarga. Jesus bless us
Tidak ada komentar:
Posting Komentar